Jumat, 11 Oktober 2019

Tampilan Makanan Jadi Hal Penting Buat Anak Muda


 Semakin cantik penampilan makanan, semakin berpotensi untuk dipesan biar bisa jadi konten untuk di medsos. Foto/timesofindia.com


Teknologi informasi dan telekomunikasi (teknologi digital) berkembang sangat pesat. Ini membuat perubahan gaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya dalam hal kuliner.

Industri Kuliner di Indonesia kini kian maju. Saat lapar, kita tinggal buka ponsel dan aplikasi pesan makanan. Beberapa menit kemudian, makanan sudah datang di depan pintu rumah kita.

Mau tahu apakah sebuah makanan di restoran tertentu enak atau enggak? Tinggal cek di beberap situs web review makanan. Semua serba praktis. 

“Zaman dulu, ketika ingin makan, pasti kita akan makannya itu-itu saja. Berbeda dengan saat ini yang mencari makanan tidak dapat lepas dari gawai. Mau makan apa tinggal cari di Google, di sana akan ada pilihan restoran, daftar menu, bahkan ada review yang dapat dibaca untuk mempertimbangkan apakah makanan di restoran tersebut benar-benar enak atau tidak,” ucap Veronica Utami, Head Of Marketing, Google Indonesia, ketika mengisi salah satu sesi IdeaFest 2019.

Perubahan zaman ini membuat para pebisnis mengubah cara promosinya. “Saya membuka usaha sudah 10 tahun. Dulu pembelinya seorang ibu dan anak. Kini anaknya sudah menjadi remaja dan sudah datang sendiri ke restoran saya. Maka akan ada pelanggan baru dengan selera baru di era digital ini,” ucap Wynda Mardio, pendiri Steak Hotel by Holycow.  

 Foto : Tommy Kurniawan / IdeaFest2019

Selera baru itu, salah satunya adalah makanan bukan lagi soal rasa, tapi juga soal penampilan makanannya. Banyak generasi milenial, terutama Gen Z, yang akan mengunggah foto makanannya terlebih dahulu ke media sosial, sebelum memakannya.

Jadi, tidak heran kalau banyak generasi milenial yang beli makanan sesuai penampilan.

Untuk bisa mengikuti selera generasi milenial, pebisnis bisa mencoba beberapa cara. Yaitu memperhatikan penampilan makanan, membuat situs web restoran untuk memudahkan konsumen mencari informasi, membuat media sosial untuk promosi, dan bergabung dengan e-commerce serta berbagai food delivery.

 Foto: jonathangayman.com

Teknologi pun sangat membantu marketing usaha pebisnis. “Dengan adanya teknologi, kita dapat melihat data pelanggan. Ini bisa digunakan untuk melihat kemauan pelanggan. Dari situ, akan terlihat berbagai data, seperti menu apa yang sering dipesan dan tidak dipesan, menu apa yang harus diganti, dan tempat yang pas untuk membuka outlet baru,” ucap Wynda.

Untuk membantu para pebisnis, Google juga membuka pelatihan, yaitu Gapura Digital, di kawasan Kuningan. Yang mau belajar bisnis, bisa juga belajar di sana. Jadi, Gen Z enggak cuma jadi penikmat dan konsumen doang, tapi juga bisa jadi pebisnis.  

1 komentar:

  1. Kalau buat aku sih rasa makanan tetep harus nomor 1, kalau tampilan itu cuma nilai tambah. Tapi memang betul dengan adanya teknologi, cari makanan yang enak plus tampilan cantik jadi jauh lebih mudah

    BalasHapus